Rekor MURI Kebaya dari Kulit Bawang oleh Hj Dyah Maulana Sanggar Maudy

By : Admin | On : 22 FEBRUARI 2017 | 550 VIEWS

SEMARANG – Kebaya pengantin karya Hj Dyah Maulana yang satu ini terbilang unik dan langka. Betapa tidak, seluruh bagian luar kebaya tersebut ternyata terbuat dari kulit bawang putih. Keunikan baju pengantin tersebut kian menarik, karena dikenakan pengantin wanita saat melangsungkan pernikahannya.

“Ide itu muncul dari cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih. Bawang Putih adalah gadis yang jujur dan memiliki kepribadian baik,” kata Dyah usai resepsi pengantin pasangan Novie Widiyanto dan Wiwik Setiyaningsih, Jumat (5/5) lalu.

Keunikan kebaya pengantin itu akhirnya tercatat di dalam Museum Rekor Indonesia (Muri) dan sertifikat rekor tersebut diserahkan manajer Paulus Pangka di sela-sela resepsi pernikahan, yang berlangsung di Badan Diklat APDN Srondol.

Menurut Dyah, pembuatan kebaya menghabiskan sekitar empat karung kulit bawang putih. Kulit sebanyak itu didapatnya dari pedagang bawang di kawasan Pasar Johar. Untuk pencarian bahan kulit bawang putih hingga terkumpul sebanyak itu diperlukan waktu tiga hari.

“Saat mengumpulkan kulit bawang tersebut, saya malah dianggap pemulung. Tapi, itu merupakan ujian kesabaran bagi saya,” ungkap pemilik salon rias pengantin Maudy itu.

Guna menghilangkan aroma bawang, lanjutnya, kulit bawang dikeluarkan dari karung dan diangin-anginkan. “Penganginan dilakukan kurang lebih seminggu sehingga kulit tidak beraroma lagi. Selain itu kulit juga tidak boleh terkena langsung sinar matahari karena bisa rusak,” tuturnya.

Setelah aroma hilang, baru proses pengerjaan pembuatan kebaya dilakukan. Menurut dia, proses merangkai kulit memakan waktu cukup lama, yakni hingga dua bulan.

Hal itu dikarenakan dirinya harus merangkai kulit satu per satu dengan jahitan tangan. “Lebih sulit lagi saat merangkai bunga dari kulit dan beberapa aksesoris lainnya yang semuanya harus dikerjakan dengan tangan tidak bisa dengan mesin,” katanya.

Untuk jerih payahnya dan kejelian merangkai kulit bawang putih tersebut, dia menjual setelan kebaya pengantin itu seharga Rp 5 juta.

Bagi Dyah yang tinggal di Jl Raya Ngaliyan BPI A-5 itu, kebaya daun bawang putih itu menjadi suatu berkah untuknya.

Banyak calon pengantin yang datang ke salonnya dan meminta dibuatkan gaun pengantin yang unik dan berkesan. “Rata-rata mereka ingin pernikahannya memiliki arti khusus dan berkesan,” tuturnya.

Mengenai rekor Muri tersebut, hal itu merupakan ketiga kali baginya selama menjalani profesi perias pengantin. Sebelum itu, karyanya berupa cunduk mentul setinggi 120 cm dan dekorasi pelaminan pengantin dari batok kelapa telah tercatat di Muri. (H23-18h)