Dyah Maulana, Sukses Berawal dari Salon Kecil

By : Admin | On : 21 FEBRUARI 2017 | 177 VIEWS

Nama Dyah Maulana, tentu sudah tidak asing lagi bagi pebisnis yang bergerak di bidang yang berkait dengan pesta pernikahan. Selain terus menciptakan karya-karya yang fenomenal, ibu dua anak ini juga selalu ramah kepada siapa saja yang ditemuinya. Karya-karyanya fenomenal karena telah tujuh kali memecahkan rekor MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia)
Mungkin belum banyak yang tahu, jika bisnis Bu Dyah (panggilan akrabnya) benar-benar dimulai dari bawah. Berbekal bakat dan ilmu kecantikan yang diperolehnya dari kursus kecantikan, tepatnya pada tahun 1984, dia memberanikan diri untuk membuka salon. Modal awalnya gunting, sisir, dan kaca lemari yang dilepas dan di pasang di ruang salon.
“Saat itu saya membayangkan masa kecil saya yang suka jika melihat peralatan make up. Bahkan brosur make up ataupun alat make up kadang saya simpan, dan saya ingat-ingat kegunaanya. Saya waktu kelas tiga SD juga sering mewarnai ulang muka artis di kalender, rasanya senang sekali seperti telah merias orang. Hal itulah yang semakin mendorong saya, bahwa di sini lah bakat dan minat saya,” ungkap Bu Dyah saat ditemui di butiknya.
Modal tidak menjadi kendala buat Dyah muda untuk memulai usaha salon, karena baginya ilmu itu modal utama. Berbekal ilmu itulah pelanggan salon terus bertambah dari waktu ke waktu, karena informasi dari mulut ke mulut. Beberapa tahun setelah salonnya berdiri, Dyah mulai mempekerjakan karyawan untuk membantu usahanya. Beberapa kali Dyah juga menerima order untuk rias pengantin.
“Saat itu saya belum menikah, dan tradisi saat itu membuka rias pengantin bagi yang belum menikah itu tabu. Karena itulah saya hanya fokus di salon, meski terkadang juga melayani rias pengantin untuk keluarga sendiri. Setelah saya menikah, baru saya serius mengembangkan rias pengantin,” papar ibu yang sekarang juga memiliki usaha mebel ini.
Sambil terus menjalankan usaha salon, Dyah terus belajar ilmu tata rias. Tepatnya pada tahun 1995, Bu Dyah benar-benar fokus di pelayanan untuk pernikahan. Untuk menarik banyak pelanggan supaya datang ke Maudy, Bu Dyah juga melakukan banyak promosi, baik melalui brosur maupun iklan di bebeberap media.
“Perkembangan Maudy cukup pesat, uang bulanan dari suami juga saya gunakan untuk memajukan Maudy, sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari saya gunakan uang hasil dari Maudy. Alhamdulillah berdiri pada 1995, tahun 1997, kami sudah bisa menunaikan ibadah haji,” ungkap Bu Dyah.